{"id":9466,"date":"2023-11-16T16:13:01","date_gmt":"2023-11-16T16:13:01","guid":{"rendered":"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/?p=9466"},"modified":"2023-12-13T07:14:03","modified_gmt":"2023-12-13T07:14:03","slug":"apa-itu-canonical-tags","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/apa-itu-canonical-tags\/","title":{"rendered":"Apa Itu Canonical Tags dan 5 Cara Mengimplementasikannya"},"content":{"rendered":"\n<p>Bagi orang-orang yang berkecimpung di bidang pemrograman pastinya familier dengan istilah <strong>canonical tags<\/strong>. Tapi, bisa juga istilah itu masih terdengar asing di telingamu. Dibandingkan istilah-istilah <em>programming<\/em> lainnya, penggunaan kata tersebut memang tergolong jarang. Padahal, penggunaan <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Canonical_link\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">tag canonical<\/a> sudah ada sejak tahun 2009, lho.<\/p>\n\n\n\n<p>Nggak banyak yang tahu bahwa penggunaan <strong>canonical tags <\/strong>ini bakal sangat membantu dalam menemukan dan menghapus konten duplikat yang ada pada <em>website<\/em>mu. Konten duplikat merupakan jenis <em>keyword cannibalism<\/em> yang mengakibatkan performa <em>website<\/em> menurun. Tapi, cara ini baru akan bisa berfungsi secara maksimal jika kamu menerapkannya dengan tepat. Makanya, cari tahu caranya berikut ini, yuk!<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-rank-math-toc-block\" id=\"rank-math-toc\"><h4>Table of Contents<\/h4><nav><ol><li><a href=\"#apa-itu-canonical-tags\">Apa Itu Canonical Tags?<\/a><\/li><li><a href=\"#mengapa-canonical-tags-penting-untuk-seo\">Mengapa Canonical Tags Penting untuk SEO?<\/a><\/li><li><a href=\"#kapan-canonical-tags-harus-digunakan\">Kapan Canonical Tags Harus Digunakan?<\/a><\/li><li><a href=\"#5-cara-menerapkan-canonical-tags\">5 Cara Menerapkan Canonical Tags<\/a><ol><li><a href=\"#menggunakan-tag-html-rel-canonical\">Menggunakan Tag HTML rel=\u201ccanonical\u201d<\/a><\/li><li><a href=\"#mengatur-canonical-dalam-header-http\">Mengatur Canonical dalam Header HTTP<\/a><\/li><li><a href=\"#mengatur-canonical-dalam-sitemap\">Mengatur Canonical dalam Sitemap<\/a><\/li><li><a href=\"#mengatur-canonical-dengan-redirect-301\">Mengatur Canonical dengan Redirect 301<\/a><\/li><li><a href=\"#tautan-internal\">Tautan Internal<\/a><\/li><\/ol><\/li><\/ol><\/nav><\/div>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"apa-itu-canonical-tags\">Apa Itu Canonical Tags?<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"731\" src=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Apa-Itu-Canonical-Tags-1024x731.webp\" alt=\"Apa Itu Canonical Tags\" class=\"wp-image-9476\" srcset=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Apa-Itu-Canonical-Tags-1024x731.webp 1024w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Apa-Itu-Canonical-Tags-300x214.webp 300w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Apa-Itu-Canonical-Tags-768x549.webp 768w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Apa-Itu-Canonical-Tags.webp 1050w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Apa Itu Canonical Tags<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Sebelumnya, kamu perlu tahu terlebih dulu tentang apa itu <strong>canonical tags<\/strong>. Tag canonical (rel=&#8221;canonical&#8221;) adalah potongan kode HTML yang menentukan versi utama untuk halaman-halaman duplikat, hampir duplikat, dan serupa. Dengan kata lain, jika kamu memiliki konten yang sama atau serupa yang tersedia di bawah URL yang berbeda, kamu dapat menggunakan tag canonical untuk menentukan versi mana yang utama dan, oleh karena itu, harus diindeks.<\/p>\n\n\n\n<p>Tag canonical menggunakan sintaks yang sederhana dan konsisten, dan ditempatkan di dalam bagian &lt;head> dari halaman web, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/apa-itu-large-contentful-paint\/\" data-type=\"post\" data-id=\"9540\">Apa Itu Large Contentful Paint dan 6 Cara Mengoptimasinya<\/a><\/p>\n\n\n\n<pre class=\"wp-block-code\"><code>&lt;link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/contoh.com\/halaman-contoh\/\" \/&gt;<\/code><\/pre>\n\n\n\n<p>Berikut adalah arti dari setiap bagian kode tersebut dalam bahasa yang mudah dimengerti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>link rel=&#8221;canonical&#8221;: Tautan dalam tag ini adalah versi utama (canonical) dari halaman ini.<\/li>\n\n\n\n<li>href=&#8221;https:\/\/contoh.com\/halaman-contoh\/&#8221;: Versi canonical dapat ditemukan di URL ini.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"mengapa-canonical-tags-penting-untuk-seo\">Mengapa Canonical Tags Penting untuk SEO?<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"684\" src=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengapa-Canonical-Tags-Penting-untuk-SEO-1024x684.webp\" alt=\"Mengapa Canonical Tags Penting untuk SEO\" class=\"wp-image-9477\" srcset=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengapa-Canonical-Tags-Penting-untuk-SEO-1024x684.webp 1024w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengapa-Canonical-Tags-Penting-untuk-SEO-300x200.webp 300w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengapa-Canonical-Tags-Penting-untuk-SEO-768x513.webp 768w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengapa-Canonical-Tags-Penting-untuk-SEO-1536x1026.webp 1536w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengapa-Canonical-Tags-Penting-untuk-SEO.webp 2000w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Mengapa Canonical Tags Penting untuk SEO<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Google nggak menyukai konten duplikat. Ini membuat mereka kesulitan untuk memilih:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Versi halaman mana yang harus diindeks (mereka hanya akan mengindeks satu!).<\/li>\n\n\n\n<li>Versi halaman mana yang harus mendapatkan peringkat untuk kueri yang relevan.<\/li>\n\n\n\n<li>Apakah mereka harus mengonsolidasikan &#8220;link equity&#8221; pada satu halaman atau membaginya antara beberapa versi.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Terlalu banyak konten duplikat juga dapat memengaruhi &#8220;crawl budget&#8221; kamu. Artinya, Google mungkin akan membuang-buang waktu untuk mengcrawl beberapa versi halaman yang sama daripada menemukan konten penting lainnya di situs webmu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Canonical tags<\/strong> menyelesaikan semua masalah ini. Mereka memungkinkan kamu memberi tahu Google versi mana dari halaman yang seharusnya diindeks dan diberi peringkat, serta di mana mengonsolidasikan &#8220;<em>link equity<\/em>.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Jika kamu gagal menentukan URL <em>canonical<\/em>, Google akan mengambil inisiatif. Mereka akan mengambil versi URL terbaik menurut mereka. Ini tentunya kurang bagus, apalagi jika URL pilihan Google memuat konten yang kurang berkualitas.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Baca juga: <\/strong><a href=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/panduan-belajar-seo\/\">Panduan Belajar SEO<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"kapan-canonical-tags-harus-digunakan\">Kapan Canonical Tags Harus Digunakan?<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"575\" src=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Kapan-Canonical-Tags-Harus-Digunakan-1024x575.webp\" alt=\"Kapan Canonical Tags Harus Digunakan\" class=\"wp-image-9478\" srcset=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Kapan-Canonical-Tags-Harus-Digunakan-1024x575.webp 1024w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Kapan-Canonical-Tags-Harus-Digunakan-300x168.webp 300w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Kapan-Canonical-Tags-Harus-Digunakan-768x431.webp 768w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Kapan-Canonical-Tags-Harus-Digunakan-1536x862.webp 1536w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Kapan-Canonical-Tags-Harus-Digunakan.webp 1920w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Kapan Canonical Tags Harus Digunakan<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Mungkin kamu merasa bahwa nggak ada postingan konten di <em>website<\/em>mu yang bersifat duplikat. Bisa jadi kamu belum pernah memublikasikan posting dan halaman yang sama beberapa kali, sehingga mudah untuk menganggap bahwa situs webmu nggak memiliki konten duplikat. Namun, mesin pencari menjelajahi URL, bukan halaman web.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu berarti bahwa mereka melihat contoh.com\/product dan contoh.com\/product?color=red sebagai halaman unik, meskipun keduanya adalah halaman web yang sama dengan konten yang identik atau serupa. Ini disebut sebagai URL yang diberi parameter, dan ini adalah penyebab umum konten duplikat, terutama pada situs e-commerce dengan navigasi yang diberi parameter atau difilter.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai contoh, Brown Bag Clothing menjual kemeja. Ini adalah URL untuk halaman kategori utama mereka:<\/p>\n\n\n\n<p><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-contrast-2-color\">https:\/\/www.bbclothing.co.uk\/en-gb\/clothing\/shirts.html<\/mark><\/p>\n\n\n\n<p>Jika kamu menyaring hanya untuk kemeja berukuran XL, sebuah parameter ditambahkan ke URL:<\/p>\n\n\n\n<p><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-contrast-2-color\">https:\/\/www.bbclothing.co.uk\/en-gb\/clothing\/shirts.html?Size=XL<\/mark><\/p>\n\n\n\n<p>Jika kamu juga menyaring hanya untuk kemeja berwarna biru, parameter lain ditambahkan:<\/p>\n\n\n\n<p><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-contrast-2-color\">https:\/\/www.bbclothing.co.uk\/en-gb\/clothing\/shirts.html?Size=XL&amp;color=Blue<\/mark><\/p>\n\n\n\n<p>Ini semua adalah halaman terpisah di mata Google, meskipun kontennya hanya sedikit berbeda. Namun, bukan hanya situs e-commerce yang menjadi korban konten duplikat. Berikut adalah beberapa penyebab umum konten duplikat yang berlaku untuk semua jenis situs web:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Memiliki URL dengan parameter pencarian (mis., contoh.com?q=search-term)<\/li>\n\n\n\n<li>Memiliki URL dengan ID sesi (mis., https:\/\/contoh.com?sessionid=3)<\/li>\n\n\n\n<li>Memiliki versi cetak dari halaman yang terpisah (mis., contoh.com\/page dan contoh.com\/print\/page)<\/li>\n\n\n\n<li>Memiliki URL unik untuk posting di bawah kategori yang berbeda (mis., contoh.com\/services\/SEO\/ dan contoh.com\/specials\/SEO\/)<\/li>\n\n\n\n<li>Memiliki halaman untuk jenis perangkat yang berbeda (mis., contoh.com dan m.contoh.com)<\/li>\n\n\n\n<li>Memiliki versi AMP dan non-AMP dari suatu halaman (mis., contoh.com\/page dan amp.contoh\/page)<\/li>\n\n\n\n<li>Menyajikan konten yang sama pada varian non-www dan www (mis., http:\/\/contoh.com dan http:\/\/www.contoh.com)<\/li>\n\n\n\n<li>Menyajikan konten yang sama pada varian non-https dan https (mis., http:\/\/www.contoh.com dan https:\/\/www.contoh.com)<\/li>\n\n\n\n<li>Menyajikan konten yang sama dengan dan tanpa trailing slashes (mis., https:\/\/contoh.com\/page\/ dan http:\/\/www.contoh.com\/page)<\/li>\n\n\n\n<li>Menyajikan konten yang sama pada versi default halaman seperti halaman indeks (mis., https:\/\/www.contoh.com\/, https:\/\/www.contoh.com\/index.htm, https:\/\/www.contoh.com\/index.html, https:\/\/www.contoh.com\/index.php, https:\/\/www.contoh.com\/default.htm, dll.)<\/li>\n\n\n\n<li>Menyajikan konten yang sama dengan dan tanpa huruf besar (mis., https:\/\/contoh.com\/page\/ dan http:\/\/www.contoh.com\/Page\/)<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Dalam situasi-situasi seperti ini, penggunaan yang benar dari <strong>canonical tags<\/strong> memang penting banget.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, masalah konten duplikat antar-domain juga perlu diperhatikan. Jika kamu mensindikasikan konten, praktik terbaik adalah menggunakan tag canonical self-referensial pada artikelmu dan menyatakan konten yang disindikasikan sebagai versi canonical dengan tag canonical antar-domain.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini tidak selalu mencegah konten yang disindikasikan muncul dalam hasil pencarian, tetapi membantu mengurangi risiko konten yang disindikasikan mengungguli yang asli. Beberapa situs mungkin menolak untuk menambahkan <strong>canonical tags<\/strong>. Dalam kasus seperti itu, terserah padamu apakah kamu ingin mengambil risiko.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"5-cara-menerapkan-canonical-tags\">5 Cara Menerapkan Canonical Tags<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"512\" src=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/5-Cara-Menerapkan-Canonical-Tags-1024x512.webp\" alt=\"5 Cara Menerapkan Canonical Tags\" class=\"wp-image-9479\" srcset=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/5-Cara-Menerapkan-Canonical-Tags-1024x512.webp 1024w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/5-Cara-Menerapkan-Canonical-Tags-300x150.webp 300w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/5-Cara-Menerapkan-Canonical-Tags-768x384.webp 768w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/5-Cara-Menerapkan-Canonical-Tags-1536x768.webp 1536w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/5-Cara-Menerapkan-Canonical-Tags.webp 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">5 Cara Menerapkan Canonical Tags<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Melalui ulasan di atas, kamu sudah tahu kan tentang pentingnya menggunakan <strong>canonical tags<\/strong>? Di bab ini, kami akan berbagi informasi tentang bagaimana cara menerapkan tag canonical secara tepat. Yuk, simak lebih lanjut ulasannya berikut:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"menggunakan-tag-html-rel-canonical\">Menggunakan Tag HTML rel=\u201ccanonical\u201d<\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Menggunakan-Tag-HTML-relcanonical-1024x576.webp\" alt=\"Menggunakan Tag HTML rel=\u201ccanonical\u201d\" class=\"wp-image-9480\" srcset=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Menggunakan-Tag-HTML-relcanonical-1024x576.webp 1024w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Menggunakan-Tag-HTML-relcanonical-300x169.webp 300w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Menggunakan-Tag-HTML-relcanonical-768x432.webp 768w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Menggunakan-Tag-HTML-relcanonical.webp 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Menggunakan Tag HTML rel=\u201ccanonical\u201d<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Menggunakan tag rel=canonical adalah cara yang paling sederhana dan jelas untuk menentukan <strong>canonical tags<\/strong>. Cukup tambahkan kode berikut ke bagian &lt;head&gt; dari halaman duplikat apa pun:<\/p>\n\n\n\n<pre class=\"wp-block-code\"><code>&lt;link rel=\u201ccanonical\u201d href=\u201chttps:\/\/example.com\/canonical-page\/\u201d \/&gt;<\/code><\/pre>\n\n\n\n<p>Misalnya, kamu memiliki situs web e-commerce yang menjual kaos. Kamu ingin https:\/\/tokomu.com\/kaos\/kaos-hitam\/ menjadi URL canonical, meskipun konten halaman tersebut dapat diakses melalui URL lain (mis., <mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-contrast-2-color\">https:\/\/tokomu.com\/promo\/kaos-hitam\/<\/mark>). Cukup tambahkan tag canonical berikut ke halaman duplikat:<\/p>\n\n\n\n<pre class=\"wp-block-code\"><code>&lt;link rel=\u201ccanonical\u201d href=\u201chttps:\/\/tokomu.com\/kaos\/kaos-hitam\/\u201d \/&gt;<\/code><\/pre>\n\n\n\n<p>Perhatikan bahwa jika kamu menggunakan CMS, kamu tidak perlu mengutak-atik kode halamanmu. Ada cara yang lebih mudah. Jika kamu menggunakan WordPress, instal Yoast SEO dan tag canonical self-referencing akan ditambahkan secara otomatis. Untuk mengatur canonical kustom, gunakan bagian &#8220;Advanced&#8221; pada setiap pos atau halaman.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"772\" height=\"504\" src=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/canonical-tag-yoast.webp\" alt=\"canonical-tag-yoast\" class=\"wp-image-9483\" srcset=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/canonical-tag-yoast.webp 772w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/canonical-tag-yoast-300x196.webp 300w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/canonical-tag-yoast-768x501.webp 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 772px) 100vw, 772px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">canonical-tag-yoast<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"mengatur-canonical-dalam-header-http\">Mengatur Canonical dalam Header HTTP<\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"582\" src=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dalam-Header-HTTP-1024x582.webp\" alt=\"Mengatur Canonical dalam Header HTTP\" class=\"wp-image-9481\" srcset=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dalam-Header-HTTP-1024x582.webp 1024w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dalam-Header-HTTP-300x171.webp 300w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dalam-Header-HTTP-768x437.webp 768w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dalam-Header-HTTP-1536x874.webp 1536w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dalam-Header-HTTP.webp 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Mengatur Canonical dalam Header HTTP<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Dokumen seperti PDF nggak memiliki bagian &lt;head&gt; pada halamannya, sehingga nggak memungkinkan untuk menempatkan tag canonical di sana. Dalam situasi seperti ini, kamu perlu menggunakan header HTTP untuk mengatur canonical. Kamu juga bisa menggunakan canonical dalam header HTTP pada halaman web standar.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"mengatur-canonical-dalam-sitemap\">Mengatur Canonical dalam Sitemap<\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dalam-Sitemap-1024x576.webp\" alt=\"Mengatur Canonical dalam Sitemap\" class=\"wp-image-9475\" srcset=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dalam-Sitemap-1024x576.webp 1024w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dalam-Sitemap-300x169.webp 300w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dalam-Sitemap-768x432.webp 768w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dalam-Sitemap.webp 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Mengatur Canonical dalam Sitemap<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Google menyatakan bahwa halaman non-canonical nggak boleh dimasukkan dalam sitemap. Hanya URL canonical yang seharusnya terdaftar. Hal ini karena Google melihat halaman yang terdaftar dalam sitemap sebagai canonical yang disarankan. Meskipun demikian, Google tidak selalu memilih URL tersebut untuk diberikan <strong>canonical tags<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"mengatur-canonical-dengan-redirect-301\">Mengatur Canonical dengan Redirect 301<\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"538\" src=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dengan-Redirect-301-1024x538.webp\" alt=\"Mengatur Canonical dengan Redirect 301\" class=\"wp-image-9482\" srcset=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dengan-Redirect-301-1024x538.webp 1024w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dengan-Redirect-301-300x158.webp 300w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dengan-Redirect-301-768x404.webp 768w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dengan-Redirect-301-1536x807.webp 1536w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Mengatur-Canonical-dengan-Redirect-301-2048x1076.webp 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Mengatur Canonical dengan Redirect 301<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Gunakan redirect 301 ketika kamu ingin mengalihkan lalu lintas dari URL duplikat ke versi canonical. Misalnya, halamanmu dapat diakses melalui URL berikut:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>example.com<\/li>\n\n\n\n<li>example.com\/index.php<\/li>\n\n\n\n<li>example.com\/home\/<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Pilih satu URL sebagai canonical dan redirect URL lainnya ke sana. Lakukan hal yang sama untuk versi situs yang aman (HTTPS\/HTTP) dan dengan atau tanpa www. Pilih satu versi <strong>canonical tags<\/strong> dan lakukan <em>redirect<\/em> yang lain ke versi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"tautan-internal\">Tautan Internal<\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Tautan-Internal-1024x576.webp\" alt=\"Tautan Internal\" class=\"wp-image-9253\" srcset=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Tautan-Internal-1024x576.webp 1024w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Tautan-Internal-300x169.webp 300w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Tautan-Internal-768x432.webp 768w, https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Tautan-Internal.webp 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Tautan Internal<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Cara kamu melakukan penautan dari satu halaman ke halaman lain di situsmu adalah sinyal kanonisasi. Analisis Trends Analyst Google Webmaster, John Mueller, membahas sinyal yang digunakan untuk menentukan URL canonical dalam video #AskGoogleWebmasters. Di dalam videonya, beliau menyatakan apabila semakin konsisten kamu dengan semua sinyal ini, semakin mudah bagi mesin pencari untuk menentukan URL canonical pilihanmu. Google juga lebih memilih URL HTTPS daripada HTTP, dan URL yang terlihat lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengaplikasikan <strong>canonical tags<\/strong> bisa memberikan efek yang besar terhadap optimasi SEO situsmu. Tapi, menerapkan hal ini memang bisa jadi membuat kepalamu pusing tujuh keliling. Makanya, serahkan usaha optimasi situsmu pada Optimaise. Kamu hanya perlu memilih paket <a href=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/jasa-seo\/\">jasa SEO<\/a> sesuai kebutuhan, dan tim SEO kami akan mengupayakan yang terbaik. Maksimalkan potensi situsmu bersama <a href=\"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/\">Optimaise<\/a> sekarang juga.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi orang-orang yang berkecimpung di bidang pemrograman pastinya familier dengan istilah canonical tags. Tapi, bisa<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":9474,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_eb_attr":"","footnotes":""},"categories":[24,25],"tags":[71,21,11],"class_list":["post-9466","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-digital-marketing","category-seo","tag-canonical-tags","tag-digital-marketing","tag-seo","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-50"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9466","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9466"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9466\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9474"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9466"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9466"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zaferinadigital.com\/optimaise\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9466"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}